PRAJURIT JAGA MALAM
Karya : Chairil Anwar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
AKU
Karya : Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Karya : Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
NASEHAT-NASEHAT KECIL ORANG TUA
PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA
PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA
Karya :
Taufik Ismail
Jika
adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah ang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah ang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kauagungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi
KETIKA INDONESIA DIHORMATI DUNIA
Karya : Taufiq Ismail
Karya : Taufiq Ismail
Dengan
rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah
abad yang lewat
abad yang lewat
Dengan
rasa kangen pemilihan umum pertama itu
kucatat
kucatat
Peristiwa
itu berlangsung tepatnya di tahun lima
puluh lima
puluh lima
Ketika
itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun
merdeka
merdeka
Itulah
pemilihan umum yang paling indah dalam
sejarah bangsa
sejarah bangsa
Pemilihan
umum pertama, yang sangat bersih dalam
sejarah kita
sejarah kita
Waktu
itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah
jujur dan adil
jujur dan adil
Jujur
dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma
dilaksanakan
dilaksanakan
Waktu
itu tak dikenal istilah pesta demokrasi
Pesta
demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma
dilangsungkan
dilangsungkan
Pesta
yang bermakna kegembiraan bersama
Demokrasi
yang berarti menghargai pendapat berbeda
Pada
waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan
Pada
waktu itu tidak ada setetes pun darah
ditumpahkan
ditumpahkan
Pada
waktu itu tidak ada satu nyawa melayang
Pada
waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan
lalu dibakar
lalu dibakar
Pada
waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api
berkobar
berkobar
Pada
waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar
sogok-sogokan
sogok-sogokan
Pada
waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada
kecurangan
kecurangan
Itulah
masa, ketika Indonesia dihormati dunia
Sebagai
pribadi, wajah kita simpatik berhias
senyuman
senyuman
Sebagai
bangsa, kita dikenal santun dan sopan
Sebagai
massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari
keganasan
keganasan
Tapi
enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu
berturutan
berturutan
Untuk
sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi
dalam ukuran
dalam ukuran
Rakyat
dihasut untuk berteriak, bendera partai
mereka kibarkan
mereka kibarkan
Rasa
bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam
dikobarkan
dikobarkan
Kemudian
diacungkan tinju, naiklah darah, lalu
berkelahi dan
berbunuhan
berkelahi dan
berbunuhan
Anak
bangsa tewas ratusan, mobil dan bangunan
dibakar puluhan
dibakar puluhan
Anak
bangsa muda-muda usia, satu-satu ketemu di
jalan, mereka sopan-
sopan
jalan, mereka sopan-
sopan
Tapi
bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di
lapangan
lapangan
Pawai
keliling kota, berdiri di atap kendaraan,
melanggar semua aturan
melanggar semua aturan
Di
kepala terikat bandana, kaus oblong disablon, di
tangan bendera
berkibaran
tangan bendera
berkibaran
Meneriak-neriakkan
tanda seru dalam sepuluh kalimat
semboyan dan
slogan
semboyan dan
slogan
Berubah
mereka jadi beringas dan siap mengamuk,
melakukan kekerasan
melakukan kekerasan
Batu
berlayangan, api disulutkan, pentungan
diayunkan
diayunkan
Dalam
huru-hara yang malahan mungkin, pesanan
Antara
rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu
pada pemilu yang bersih dan indah, pernah
kurasakan
kurasakan
Malu
pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku
Bangsaku.